Archive for Curhat

Alhamdulillah… ibu telah memilih…

kakakGadis kecilku sudah mulai kritis, dia sudah pandai protes, “Kok ummi pulangnya lama kali sih,” sambutnya didepan pintu ketika kami pulang kantor terlambat.

Sebelum ini dia juga pernah protes, “Abi ini kok pergi-pergiii aja, pulang sebentar pergi lagi,” katanya dengan gaya sok tua.

Kemarin ketika suamiku sedikit marah padanya, dengan gaya sedih dan merajuk bibir mungilnya berucap, “Kok kak farah setiap hari dimarahin, gak kasihan sama kak farah…”, lirihnya. Mendengar ucapannya yang spontan itu sontak aku terkaget dan langsung memeluknya, kemudian kutanyakan padanya apakah tadi dia merasa dimarahi, lalu aku meminta maaf padanya. “Maafkan ummi sama abi ya nak, terkadang bukan maksud marah sama kak farah, tetapi mungkin karena ummi sama abi capek sehingga tidak bisa mujuk-mujuk kak farah, jadi seperti orang marah yaaa…!” Kalo gitu ummi minta maaf yaaa”, bujukku diiringi tetesan air mata penyesalan.  Dia pun mengangguk dalam pelukanku.

Nun di dasar hati, aku merasa telah diingatkan Allah melalui ucapan anakku. Aku bersyukur telah tersadar saat itu,  selama ini mungkin karena telah lelah bekerja seharian, sampai dirumah tidak bisa memilih-milih ucapan yang membujuk atau merayu-rayu lagi terhadap anak, yang keluar lebih sering kalimat-kalimat perintah, atau kalimat-kalimat permohonan agar anak paham bahwa orangtuanya sedang penat. Aku bersyukur ya Allah Engkau tegur aku hari itu, sehingga aku ber’azzam dalam hati untuk memperbaikinya saat itu jua.

“Maafkan kami ya nak, belum bisa menjadi orang tua yang baik bagimu, tetapi Insya Allah kami akan senantiasa belajar dan memperbaiki diri.”

Secara tak sengaja kutemukan puisi ini yang sepertinya sesuai dengan isi hati saat ini, teruntuk kedua buah hatiku tercinta.

Sumber : www.infobunda.com 

BILA IBU BOLEH MEMILIH


Anakku…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…
Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu

By : Ratih Sanggar Wati

Nak… dialah idola kita yang sesungguhnya…

Ingatanku melayang ke beberapa tahun yang lalu, saat aku mendengar nasyid dari Suara Persaudaraan yang judulnya pun aku sudah lupa, “Rasulullah” atau “Zuhud” yaa …? Yang syairnya begini,

Pernahkah engkau renungkan tentang
Hidup Rasulullah junjungan
Rela hidup dalam kesederhanaan
Pertahankan kehormatan
Lewati malam-malam yang kelam
Dalam keadaan lapar
Bersama segenap keluarganya
Tak dapatkan satupun makanan

Bahkan tak pernah menikmatinya
Dari atas meja makan
Tidur beralaskan tikar kasar
Terbuat dari kulit dan rerumputan
Hingga membekas pada punggungnya
Tak pernah kenyang didalam hidupnya
Bahkan pernah tiga purnama
Tiada api menyala dirumahnya

Rasulullah junjungan kita
Rasulullah teladan kita
Rasulullan uswah manusia
Paling bahagia hidupnya

Sungguh… air mata tak dapat terbendung ketika pertama sekali aku mendengar lagu itu… pun untuk yang kali kali berikutnya… “Paling bahagia hidupnya”, kata-kata itulah yang kusimpan dalam hati, untuk kemudian mencari tahu kisah sang teladan melalui buku sirah yang menyajikan kisah hidupnya. dan ternyata… membaca sirah nya, jauh lebih mengharukan dari mendengar syair nasyid tadi. Yah… kisah hidup sang teladan yang penuh dengan duri, tantangan, rintangan, yang penuh dengan kesulitan, “kesederhanaan”, dan juga kepahlawanan. Syarat hikmah dan pelajaran untuk menjadi tuntunan dan contoh bagi kita.  

Kini… setelah memiliki anak, ku coba untuk menjadikan kisah Rasulullah sebagai kisah favoritnya, agar tertanam dalam benaknya, meresap ke dalam sanubarinya dan mantap diingatannya… sesungguhnya Rasulullah adalah idolanya, idola segenap insan yang mendambakan kebahagiaan akhirat. Kucoba memasukkan ke dalam memorinya bahwa tiada teladan lain yang pantas diidolakan, yang pantas diikuti dan dipedomani selain dari pada sang kekasih Allah. Manusia mulia yang indah dalam segala hal, indah dalam fisik, dalam akhlak, dalam ketaatan dan dalam beribadah.

Semoga kelak Allah menghimpun kita ke dalam golongan orang -orang yang mencintai Allah dan RasulNya. Amin

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ‘aalihii waashhaabihii ajma’iin.

Menjadi ibu serba tahu …

Menjadi ibu serba tahu… adalah cita-citaku dulu. Sebelum menikah, aku memang berpikir ideal sekali, kelak jika menjadi ibu… aku ingin seperti ensiklopedia, jika anakku bertanya tentang apa saja, aku bisa menjawabnya. Untuk itu aku rajin membaca untuk menambah wawasan dan pengetahuanku. Aku juga bercita-cita agar anakku menjadikan aku sebagai tempat bertanya karena ibunya ini senantiasa dapat memberikan jawaban terhadap setiap hal yang ingin diketahuinya.

ummu & kakakKetika memiliki anak pertama, aku masih bisa menjalankan rencana-rencana idealku. Sistem pengasuhan anak yang baik yang kubaca dan kupelajari dari buku-buku, dari seminar-seminar ataupun dari ngobrol-ngobrol dengan teman kucoba terapkan. Dengan dibantu satu orang pengasuh, alhamdulillah sejauh itu berjalan dengan baik. Sang pengasuh pun dapat menyesuaikan diri dengan pola asuhanku. Perkembangan putri pertamaku menurutku cukup bagus, umur sepuluh bulan dia sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan jelas (yang menggunakan konsonan seperti k,l,r masih cadel). Dan kata yang paling sering terlontar dari bibir mungilnya adalah “apa itu ?”, diucapkannya dengan sangat jelas.

Aku senantiasa menjawabnya dengan serius… yang kutahu apa yang kukatakan itu akan terekam di memory nya walaupun saat itu mungkin ia belum paham.

Untuk membeli mainan, aku tidak pelit tetapi selektif. Menonton televisi benar-benar kubatasi, bahkan sehari hampir bisa dikatakan tidak menonton. Yang kuanjurkan kepada pengasuhnya adalah bermain. Bila malam menjelang tidur,aku biasa bercerita kepadanya tentang budi pekerti yang diperankan oleh tokoh-tokoh fabel. Dia menyimak cerita yang kukarang sendiri itu dengan serius. Setelah itu baru dia tertidur. Doa-doa pendek yang kami ajarkan kepadanya dapat dihafalkannya. Demikian juga urutan huruf hijaiyah, walaupun dia belum mengenal bentuknya.

Setelah mempunyai anak kedua, perhatianku mulai terbagi. Ketika umur putriku 3 tahun, adiknya lahir. Segala idealisme yang coba kuterapkan mulai berantakan karena kesibukan yang bertambah. Sang kakak mulai merasa kurang diperhatikan, terkadang dia menunjukkan sikap yang kurang terpuji… saat itu dilakukannya, tak jarang aku marah. Tetapi begitu tersadar aku tahu dia hanya mencari perhatianku yang belakangan banyak tertuju kepada adiknya. Ditambah lagi belum ketemu nya pengasuh baru yang cocok dengannya.

Sekarang alhamdulillah, seiring bertambah besar adiknya, kesibukan sudah dapat disiasati dan pengasuh yang cocok, aku mulai bisa berbenah lagi. Aku sudah memiliki waktu khusus untuk mengajarinya membaca, menulis, mewarnai dan menggambar. Dan hal baru yang kami coba ajarkan saat ini adalah bahasa inggris, dimulai dari ucapan-ucapan biasa.

Kini putriku sudah memasuki usia 4 tahun, dan alhamdulillah dia sudah pandai membaca huruf latin dan sudah mengenal seluruh huruf hijaiyyah. Sikap kritis dan berani ada padanya. Kepada siapa saja walaupun baru pertama sekali bertemu, dia tidak segan-segan mengajak ngobrol. Dan bagiku sendiri, dia sekarang teman ngobrol yang menyenangkan, sudah dapat diajak berbicara tentang apa saja. Alhamdulillah… terima kasih Allah.

abi & adekBerbeda dengan adiknya, sudah memasuki usia 14 bulan saat ini kosakata yang bisa diucapkannya adiknya bisa dibilang masih sangat minim. Dia hanya bisa mengucapkan ujung-ujungnya saja, misalnya ummi hanya diucapkannya mmmi, mau diucapkannya mmma. Tetapi sang adik ini jika diinstruksikan sesuatu dia paham, misalnya “pakai sandalnya, dek”, “duduk”, “cuci tangannya”, dll.
Idealisme ku dalam pengasuhan kedua anakku memang berbeda, ketika anak pertama hal itu kupegang kuat-kuat, tetapi ketika anak kedua, inginnya sih tetap kupegang kuat-kuat, tetapi karena keterbatasanku… aku sedikit longgar memegangnya. Apakah karena hal itu perkembangan mereka juga berbeda… aku tidak tahu. Tetapi saat ini… aku akan berusaha semampuku untuk kembali menguatkan ikatan itu. Dengan izin dan pertolongan Allah tentunya. Karena sangat lekat diingatanku, apakah ini pesan atau pernah kubaca dibuku, “Jangan sampai lupa berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah, karena Allah lah yang Maha berkehendak.”

Ya Allah, berilah kami petunjuk dan bantulah kami dalam mendidik putra-putri kami, Amin.

Terima kasih Allah atas cinta yang kami punya …

muslimah181Sosoknya dikenal pendiam, sederhana, simple, sabar dan tidak suka menyusahkan orang lain. Orang yang belum mengenalnya sering menganggapnya dingin, sebenarnya sih itu karena pengaruh sifat pendiamnya yang sangat menonjol. Jika sudah lebih mengenalnya, maka orang mulai tahu bahwa sebenarnya ia cukup humoris dan care. Bagiku sendiri… sifat pendiamnya itu merupakan kekurangan sekaligus kelebihannya.

Pengalaman hidup masa kecil yang cukup keras menempanya menjadi sosok yang tegar dan mandiri. Kemandirian itu jelas sekali terlukis lewat cerita yang sering dikisahkannya pada kami, tak lain agar kami dapat mengambil pelajaran dari kisah tsb. Dulu… kami suka sekali mendengarkannya bercerita, tentang masa kecilnya, masa sekolahnya, bersusah payah agar bisa tetap sekolah dan alhamdulillah dia bisa dikatakan cukup berhasil (bila mendengar kisah perjuangannya)… karena dia berhasil lulus sebagai PNS setamat SMA.

Kemandirian jelas terlihat pada dirinya, segala jenis pekerjaan dapat dilakukannya… termasuk pekerjaan yang biasa dilakukan kaum hawa seperti memasak dan mencuci. Kebetulan sang istri juga bekerja, karena itu dia tidak segan-segan membantu keluarganya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. 

Pola pendidikan yang diterapkan pada anak-anaknya pun sangat bagus (menurut anak-anaknya sih), satu hal yang kuingat adalah bahwa dia tidak pernah menyuruh anak-anaknya mengerjakan PR. Lalu… ? Ya… dia tidak pernah menyuruh mereka mengerjakan PR tetapi dia menemani mereka mengerjakan PR. Dialah sang guru… tempat bertanya anak-anaknya ketika mereka kesulitan mengerjakan PR. Dia dan sang istri berkomitmen bahwa pendidikan adalah nomor satu bagi anak-anak mereka, karena itu sedaya upaya mereka akan bahu membahu membantu anak-anaknya dalam proses pendidikan. Dan… ternyata usaha mereka berbuah manis, alhamdulillah dengan izin Allah anak-anaknya diberi kemudahan dalam proses pendidikan dan memperoleh pekerjaan.

Satu hal yang juga sangat kuingat dari sosok ini adalah ketaatannya menjalankan perintah agama. Hal itu juga yang ditanamkannya demikian kuat kepada anak-anaknya.  Sehingga kemanapun anak-anaknya pergi, senantiasa menjaga apa yang telah ditanamkan sang ayah, khususnya menjaga sholat. Aku ingat istrinya pernah berkata bahwa semenjak mereka menikah… belum pernah sekalipun suaminya meninggalkan sholat.

Perannya di masjid lingkungannya juga sangat kuat, dia adalah imam dan pengurus masjid. Begitu waktu sholat tiba… maka bergegas ia menuju masjid. Jika Ramadhan tiba… maka bisa dihitung hanya berapa jam saja dia dirumah, selain itu dihabiskannya waktu di masjid. Begitu juga ketika ramadhan berakhir… maka dia termasuk yang super sibuk mengurus pembagian zakat fitrah.

Waktu tidur dimalam hari baginya dan sang istri hanyalah sampai pukul 03.00, selanjutnya adalah aktivitas ibadah hingga subuh menjelang. Satu hal yang juga sangat kuingat adalah… dia sangat tidak suka aktivitas tidur setelah subuh. Jika anak-anaknya tidur lagi setelah subuh… maka dengan serta merta akan dibangunkannya. “Kalau mau tidur lagi nanti jam-jam 10 an, jangan habis subuh”, demikian selalu diucapkannya.

Kira-kira lima bulan yang lalu, sosok ini terserang stroke, pecah pembuluh darah di kepala yang dipicu tekanan darah tinggi. Padahal seingatku… dia sangat jarang sakit, ke dokter pun bisa dihitung jari. Jika ada sedikit keluhan kesehatan, dia hanya minum jamu. Namun kabar sakit yang mendadak ini cukup mengagetkan semua yang mengenalnya… Tetapi alhamdulillah, setelah melalui penanganan medis yang cukup panjang (hampir sebulan setengah di rumah sakit dan dua kali tindakan operasi), kondisinya semakin baik, hanya saja… kini tubuhnya tidak bisa bergerak bebas seperti sediakala… sebelah kanan badannya lemah, membuatnya segala aktivitas hanya dapat dilakukannya di atas tempat tidur. Kini sosok itu begitu perasa… airmatanya sangat mudah keluar. Ketegaran yang dulu begitu kuat dalam dirinya, kini seperti melayang entah kemana. menurut dokter, memang demikian dampak psikologis dari penyakit yang sedang dideritanya, pada umumnya penderita stroke memang demikian. hari-harinya kini adalah terapi demi terapi… latihan demi latihan… alhamdulillah sudah banyak perkembangan. Dan alhamdulillah… dia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya… senantiasa merawatnya.

***

ayah bundaLima bulan lalu ayahanda tercinta terserang stroke… dan alhamdulillah berkat kasih dan sayangNya kini telah banyak kemajuan. Kondisi otaknya yang sempat terganggu karena mengalami pecah pembuluh darah… kini berangsur pulih. Hanya sebelah kanan badannya yang masih belum terkontrol olehnya. Tetapi itupun sudah banyak kemajuan… dulu ia hanya bisa berbaring, kini sudah bisa duduk dan sedang latihan berdiri. Menurut dokter sih perkembangan pergerakan ayahanda sih cukup lambat, “Seharusnya sudah bisa berjalan,” demikian kata dokter yang merawatnya sejak awal sakit. Tetapi menurut kami… kami sudah lakukan apa yang mampu kami lakukan secara optimal… kami senantiasa memompa semangat ayah agar segera pulih… agar ayah tidak malas latihan. Meski demikian… kami syukuri apa yang ada saat ini, kondisi ayah saat ini. Dan tak pernah lepas bibir kami bermohon semoga diberi kemudahan dari Allah agar ayah segera pulih.

Kenangan masa kecil yang begitu kuat bagi kami adalah… kami punya cinta… ya… yang kami punya adalah cinta yang kuat, membuat kami saling bahu membahu dalam segala hal, ayah yang membantu ibunda, ayah dan bunda yang membantu anak-anak, bahkan hingga kami dewasa saat ini, jika kami butuh pertolongan… tidak pernah ayah dan bunda tidak menolong kami. Terakhir sebelum ayah sakit… dia datang ke kotaku saat ini karena aku minta tolong menjagakan anakku… saat itu aku tengah mempersiapkan skripsi dan perlu bolak-balik kampus, sedangkan pembantu rumah tangga yang biasa menjaga anakku sedang pulang kampung karena ibunya sakit… maka akupun minta tolong kepada ayah yang pada saat itu kebetulan sudah pensiun untuk datang.

Ya Allah… terima kasih atas cinta yang Engkau limpahkan pada keluarga kami… dan berilah kami petunjuk dan kemudahan… agar ayahanda segera pulih, Amin.

Pulkam …

Segarnya mandi disini … itulah kesan pertama umumnya orang yang baru pertama kali berkunjung ke kota kecilku. Udaranya yang sejuk dan airnya yang dingin … merupakan dua hal yang sangat kurindukan kemanapun aku pergi. Apalagi saat ini aku terdampar di wilayah dengan udara panas … belaian lembut angin sepoi-sepoi yang senantiasa berhembus menambah kerinduan akan kampung halaman.

Kata pepatah … hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, masih lebih enak di negeri sendiri. Setelah merantau … aku juga menjadi pengikut ajaran pepatah itu. Ya … ternyata lebih enak di kampung sendiri. Tetapi ada juga (banyak red) kok orang yang lebih betah di rantau dari di kampung sendiri. Apalagi jika di rantau ia menjadi orang sukses, sementara di kampung begitu-begitu saja. Ada juga orang yang betah di rantau karena tantangannya, kalo di kampung cuma dibawah ketiak ortu, sementara di rantau bisa berpetualang, menjadi diri sendiri, mengatur diri sendiri. Ada lagi nih yang lebih betah di rantau karena menjadi tulang punggung keluarga, keadaan yang memaksanya untuk betah.

Dulu sebelum menikah, setiap kali ada libur kejepit atau cuti kantor, pasti aku pulkam (pulang kampung). Tak peduli letihnya badan diperjalanan (harus menempuh +/- 13 jam perjalanan darat). Kegembiraan keluarga saat menyambut kedatanganku setiap kali pulkam adalah hal yang sangat kurindukan. Bermanja dengan bunda, meminta bunda memasakkan makanan kesukaan, bercerita tentang teman-teman masa kecil, berkumpul dengan adik-adik, bertemu dengan tetangga …

Kini setelah menikah, aku tak bisa sesuka hati pulkam, harus kompromi dengan keadaan (suami, utamanya sih karena ada anak kecil). Jika keadaan memungkinkan … maka aku pulkam, jika belum memungkinkan … yah gak pulkam walaupun sedang libur atau cuti dari kantor.

Jika lebaran tiba … dulu aku pasti pulkam, tapi sekarang … aku harus berbagi pulkam dengan suami, artinya pulkamku kini tak hanya lagi ke kampung halamanku tetapi juga kampung halaman suami.

Yah … secara hati nurani manusia pastilah rindu kampung halamannya. Tempat dimana ia dilahirkan, dibesarkan, menjalani masa kanak-kanak nan ceria, tempat ayah dan bunda menemani hari-harinya.

Ternyata … sabar itu tidak ada batasnya

Belajar sabar… mungkin inilah pelajaran yang tak pernah ada habisnya dipelajari manusia. Bagaimana bisa manusia berhenti belajar sabar, sementara setiap detik kehidupannya senantiasa diwarnai oleh hal-hal yang menguji kesabaran itu. Apapun statusnya, siapapun dia, sehebat apapun dia… manusia tidak bisa memisahkan kesabaran dari dirinya. Jika sabar telah terpisah dari jiwa seorang manusia, maka sudah bisa dipastikan manusia itu tidak akan sanggup bertahan hidup didunia ini.

Setiap manusia mempunyai kehidupan dengan segala pernak-perniknya, susah dan senang silih berganti mewarnai detik demi detik yang diperuntukkan Sang Maha Pencipta baginya. Allah SWT sendiri memberikan apresiasi yang sangat tinggi untuk orang-orang yang sabar. “Sesungguhnya Aku beserta orang-orang yang sabar”, ”Dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang sabar”, demikian diantara firman Allah dalam Alquran. Rasulullah SAW juga demikian sempurna mencontohkan kesabaran. Sosok sang kekasih Allah itu adalah icon dari kesabaran.

Aku pernah mendengar, kesabaran itu ada pada saat pukulan pertama, artinya pada saat pertama kali kita mendengar, mengalami, merasakan atau melihat suatu hal yang dapat membuat kita lupa akan sabar. Apakah itu suatu hal yang membuat kita sedih, sakit, capek atau bahkan senang dan gembira. Ternyata sabar bukan hanya untuk menghadapi kesedihan tetapi juga kesenangan.

Dan satu pelajaran penting yang pernah kudapat dari seseorang, ternyata … sabar itu tidak ada batasnya… Bertolak belakang dari yang selama ini kutahu, dan setelah kurenungkan ternyata memang seharusnya … sabar itu tidak ada batasnya…

Ya Allah, bantulah kami untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong kami sebagaimana tuntunanMu … dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau beri kabar gembira kelak di akhirat, Amin.

***

Adakah Ikhtiar Menemukan Jodoh … ?

Mencari jodoh … belakangan menjadi berita hangat dimana – mana. Apakah zaman dimana jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki itu sudah tiba sehingga banyak saat ini perempuan yang “seolah-olah” lama dijemput jodoh, ada yang usia sudah kepala tiga, tetapi gambaran akan menikah dengan siapa masih belum jelas, atau dengan kata lain … belum ada calon sama sekali. Lalu jika ada teman atau saudara yang meminta tolong kepada anda untuk dicarikan jodoh, kira-kira apa yang akan anda lakukan … ?

Dulu sebelum menikah saya juga sempat berfikir, bilakah saya akan bertemu dengan jodoh saya ? Apakah cepat, lambat atau bahkan tidak sama sekali ? Alhamdulillah saya bertekad tidak mau berpacaran, karena tidak sesuai dengan tuntunan islam. Dan untuk ikhtiar … itu yang saya bingung. Adakah ikhtiar untuk mencari jodoh ? Tentu saja, demikian jawaban yang saya dapat. Ada contoh yang ditunjukkan oleh Khadijah ketika melamar Rasulullah. Tetapi ternyata tak semua…bahkan kebanyakan perempuan tak punya nyali seperti itu. Jika demikian, bagaimanakah ikhtiar yang dapat dilakukan ? Ya … minta dicarikan sama ortu, teman, sahabat, tetangga, dll lah. Ya, itu memang salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan. Nah masalahnya jika kita termasuk teman, sahabat atau tetangga yang dimintai tolong mencarikan ?

Ada beberapa orang yang minta tolong dicarikan jodoh kepada saya, terus terang saya bingung. Bagi saya mencari jodoh adalah persoalan besar, tidak seperti membeli barang. Dan saya takut menjanjikan karena saya tidak tahu kapan kah orang tersebut akan bertemu jodohnya, apakah melalui perantaraan saya atau tidak, itu rahasia Allah. Karena itu, jika datang permintaan tolong yang demikian, lagi-lagi saya hanya akan sarankan untuk banyak-banyak berdoa pada Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak. Tiada terjadi kehendak manusia kecuali atas kehendakNya jua, dan tiada mengetahui manusia kecuali atas petunjukNya. Banyak-banyak berdoa, menjaga diri dan mempersiapkan diri secara lahir dan bathin … bagi saya saat ini mungkin itulah ikhtiar yang dapat dilakukan oleh semua wanita dalam menemukan jodohnya, termasuk saya sendiri.

Mohon Maaf atas ucapan yang kurang berkenan, Wallahu a’lam bishowab.

10 Hari Kedua Ramadhan

Assalamu’alaikum wr wb teman semua, sudah lama tidak utak atik nih blog disebabkan beberapa agenda yang perlu diselesaikan segera, alhamdulillah hari ini bisa nulis lagi.

Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari kedua, maghfirah ada didalamnya. Bagaimana dengan sepuluh hari pertama ? Tercapaikah apa yang sudah kita rencanakan ? Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak menyia-nyiakan Ramadhan, karena tanpa terasa Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan kita. Bukan kita yang meninggalkan Ramadhan, tetapi Ramadhan yang akan meninggalkan kita. Jika kita tahu segala keutamaan yang ada didalamnya, niscaya kita tidak akan rela sedetikpun berlalu dengan sia-sia.

Bagiku, ini ramadhan ke -5 setelah aku menyandang status ibu. Perubahan menghadapi Ramadhan memang terjadi setelah berstatus ibu. Jika ketika masih sendiri dapat mengatur setiap kegiatan yang akan dilaksanakan tanpa diganggu oleh siapapun, maka ketika menjadi ibu, ada sosok mungil yang mengisi sebagian bahkan hampir keseluruhan waktu yang kita punya. Waktu yang tersedia pun dibagi-bagi seefisien mungkin. Ada kegiatan yang sudah direncanakan sebaik mungkin, tak jarang yang berantakan, tak dapat dilaksanakan karena kesibukan dengan anak. Mungkin itu karena kelemahanku, banyak para ibu yang memiliki anak lebih banyak dariku tetapi tetap dapat beribadah Ramadhan dengan optimal. Untuk itu aku selalu memohon kekuatan pada Allah, untuk tetap dapat optimal dalam ibadah Ramadhan semampuku saat ini, paling tidak … tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Paling tidak … aku masih menyadari bahwa Ramadhan itu sangat berharga. Dan satu hal yang selalu kupatri dalam hati, mendidik anak-anakku adalah ladang amal baru bagiku, sebuah amaliyah Ramadhan tambahan bagiku saat ini, yang dulu… ketika belum menjadi ibu tak pernah kulakukan.

Semoga kita senantiasa mendapat petunjukNya dan diberi kekuatan untuk mengisi Ramadhan ini dengan optimal. Amin.

Anakku, Allah Mendengarkannya Dari Langit Ketujuh…

Wanita itu menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. ”

Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

Beliau adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.

Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.

Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw. Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)

Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekan seorang budak

Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.

Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut

Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.

Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin

Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.

Nabi : Aku bantu dengan separuhnya

Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah. Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.”

Maka Khaulah pun melaksanakannya. Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1)

Sumber: Nisa’ Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

www.alislamu.com

***

Kupersembahkan untuk putriku, Farah Khaulah Salsabila. Nama Khaulah yang kami selipkan pada rangkaian namamu, adalah harapan dan doa kami semoga engkau meneladani Khaulah binti Tsa’labah dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Harapan kami juga agar engkau senantiasa menjadikan tuntunan Allah sebagai pedoman dan Rasulullah sebagai teladan.

Farah, begitu kami memanggilmu sehari-hari, adalah harapan dan doa kami agar engkau tumbuh menjadi pribadi yang gembira, dan senantiasa dapat memberi kegembiraan bagi orang lain. Salsabila di ujung namamu, adalah harapan kami agar engkau menjadi pribadi yang tenang dan menyejukkan, sebagaimana telaga Salsabil. Begitu besar dan banyak harapan kami untukmu nak, yang kami lukiskan dalam rangkaian namamu.

7 Agustus 2004, adalah hari ketika Allah mengamanahiku seorang putri, hari dimana statusku telah berubah menjadi seorang ibu dari seorang anak. Subhanallah, begitu banyak kebesaran dan kekuasaan Allah yang dapat kulihat dalam proses kehadiranmu ke dunia ini anakku. Mulai dari pertumbuhanmu dari bulan ke bulan didalam kandungan hingga kelahiranmu. Subhanallah. Allahu Akbar.

Kini seiring dengan bergulirnya waktu, engkau telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang lincah, aktif dan kritis. Kini engkau telah lincah bergerak dan berbicara, bahkan telah dapat mengkritik ibumu yang jarang dirumah. Masih banyak kekurangan kami sebagai orangtuamu nak, karena itu maafkanlah kami. Kami akan senantiasa belajar dan belajar agar dapat menjadi orangtua yang shalih dan shalihah sehingga dapat mendidikmu menjadi anak yang shalihah pula, dengan izin Allah tentunya.

Terkadang di sela-sela kesibukanku, aku tidak pernah terpikir bahwa engkau merindukanku ada didekatmu, sekedar menemanimu bermain, atau mendengarkan ceritamu. Mungkin karena keterbatasanku, aku sering tidak peka terhadap apa yang kau harapkan. Sering engkau mencari-cari perhatian dengan tingkah yang menurutku menjengkelkan, tetapi aku masih belum dapat membaca “maksudmu”. Maafkan ibumu anakku, semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kami, orangtuamu, untuk dapat mendidikmu dengan baik sesuai dengan tuntunanNya.

Memperingati hari lahir Farah yang ke-4, 7 Agustus 2008, ”Semoga menjadi anak yang shalihah ya, nak….” Amin.