Archive for Anak

Panduan Memilih Mainan Untuk Anak

mainan-edukatif-11Disebut mainan edukatif karena dapat merangsang daya pikir anak. Termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana membedakan mainan jenis ini dari mainan lainnya? Simaklah jawaban-jawaban tentang mainan edukatif yang disampaikan Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi UI, yang juga terapis bermain.

 

APA YANG MASUK KATEGORI MAINAN EDUKATIF?

* Diperuntukkan bagi anak balita

Yakni mainan yang memang sengaja dibuat untuk merangsang berbagai kemampuan dasar pada balita.

* Multifungsi

Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.

* Melatih problem solving

Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.

* Melatih konsep-konsep dasar

Lewat permainan ini, anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik halus.

* Melatih ketelitian dan ketekunan

Dengan mainan edukatif, anak tak hanya sekadar menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.

* Merangsang kreativitas

Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan. Bila sejak kecil anak terbiasa untuk menghasilkan karya, lewat permainan rancang bangun misalnya, kelak dia akan lebih berinovasi untuk menciptakan suatu karya, tidak hanya mengekor saja.

APA SAJA MANFAATNYA?

* Melatih kemampuan motorik

Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.

* Melatih konsentrasi

Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya — ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.

* Mengenalkan konsep sebab akibat

Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.

* Melatih bahasa dan wawasan

Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

* Mengenalkan warna dan bentuk

Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

KAPAN ANAK DIAJAK MELAKUKAN PERMAINAN EDUKATIF?

mainan-edukatif-2Meski memiliki manfaat melimpah, bukan berarti anak bisa dijejali dengan mainan edukatif terus-menerus. Mainan edukatif hanya salah satu faktor pendukung perkembangan otak anak agar lebih maksimal. Jadi tak perlu memaksa atau memorsir anak untuk melakukan permainan edukatif setiap saat.

Selain mainan edukatif, anak juga perlu dikenalkan dengan mainan pada umumnya, seperti boneka, mobil-mobilan, dan mainan-mainan yang tidak untuk dibongkar pasang lainnya. Walau tidak termasuk mainan edukatif, tapi mainan-mainan seperti itu tetap dapat menyumbangkan manfaat edukasi pada si kecil. Dengan konsep multiple intelligence edukasi bisa mencakup berbagai hal. Tidak selalu mengarah pada konsep-konsep dasar.

Misalnya begini, saat si kecil asyik bermain boneka, sebenarnya ia dilatih untuk melakukan interaksi dengan orang lain melalui boneka tersebut. Bagaimana dia harus “memperlakukan” si boneka dengan kasih sayang; disuapi, ditimang, disusui, dan tidak dibanting atau dinjak-injak. Motorik halus dan kasar si kecil juga tetap dapat terstimulasi secara tak langsung saat ia memakaikan baju pada bonekanya. Anak juga dapat mengenal warna serta peran sosial sebagai ibu, kakak, dan sebagainya.

KAPAN MAINAN EDUKATIF MULAI DIKENALKAN?

Tentu sedini mungkin. Sejak usia batita, sodori anak dengan berbagai jenis permainan baik dengan mainan edukatif ataupun bukan. Sekadar mengingatkan saja, perkembangan otak anak di usia ini masuk dalam fase emas (the golden age) atau otak si kecil sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itulah, stimulasi amat diperlukan. Semakin banyak stimulasi maka koneksi antarsarafnya semakin banyak terhubung.

Anak yang sudah akrab dengan mainan edukatif sejak dini, perkembangan kecerdasannya akan terlihat lebih maksimal. Ia lebih mampu berkonsentrasi, kreatif, serta tekun. Sementara yang tidak, biasanya akan lebih tertinggal dalam masalah intelektual. Anak-anak yang tidak diperkenalkan dengan mainan edukatif akan lebih sulit untuk belajar mengenai bentuk dan warna.

Mereka juga tidak terbiasa untuk duduk tenang serta tekun. Hal ini dapat membuat anak menjadi sulit diarahkan untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan nantinya. “Banyak kasus yang saya tangani, anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun.”

BAGAIMANA MENGOPTIMALKAN MANFAATNYA?

Sebelum menyodorkan satu mainan edukatif pada si kecil, contohkan dahulu bagaimana cara memainkannya. Asal tahu saja, mainan edukatif berbeda dari mainan pada umumnya yang lebih mudah dipahami anak. Mobil-mobilan, contohnya, hanya tinggal digeser-geser, didorong atau ditarik, mungkin si kecil sudah bisa asyik memainkannya. Namun, pada mainan edukatif dibutuhkan cara tertentu untuk bisa mendapatkan asyiknya. Pasel misalnya harus disusun dan disesuaikan keping-kepingnya. Untuk itulah perlu ada arahan dari orang dewasa. Demikian pula dengan permainan palu yang kelihatannya simpel bagi orang dewasa tapi belum tentu bagi si kecil. Perlu penjelasan lebih dulu mengenai cara memalu untuk memasang “paku” dan mencopotnya kembali.

Beberapa anak mungkin saja dapat bermain tanpa perlu pengarahan terlebih dulu. Tapi jangan lupa, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang cepat memahami kesalahannya dan cepat menganalisa, tetapi ada juga yang biasa-bisa saja, bahkan lambat. Bila si kecil termasuk lambat dan tidak mendapat pengarahan, maka bisa-bisa mainan edukatif tersebut hanya akan dibuangnya karena dianggap tidak menarik.

Satu hal penting, saat mengarahkan anak, jangan mengharuskan ia melakukan persis sama seperti yang sudah kita contohkan. Berikan kebebasan padanya untuk melakukan sesuai dengan keinginannya. Contoh, saat kita membangun rumah-rumahan dari mainan balok, biarkan ia membuat mobil-mobilan dari mainan yang sama.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 1 TAHUN:

· Permainan memasukkan benda ke dalam wadah atau menumpuk benda (seperti gelas plastik air mineral), sangat cocok bagi anak satu tahunan.

· Setelah itu si kecil bisa ditawari mainan single puzzle, yaitu mainan yang pada penutupnya diberi lubang-lubang berbentuk geometris, seperti segitiga, segiempat dan lingkaran. Lalu si kecil diminta memasukkan benda-benda yang sesuai pada lubangnya. Namun, kita belum bisa menuntutnya untuk memasukkan setiap bentuk sampai selesai, melainkan harus satu per satu. Berikan ia bentuk segitiga dulu lalu arahkan tangannya untuk memasukkan ke lubang yang berbentuk sama dengan arah yang tepat, misalnya.

Ajak si kecil untuk melakukan tuang-menuang air dari wadah yang lebih kecil ke wadah yang lebih besar. Dengan begitu anak tahu bahwa air dari wadah yang lebih kecil bisa tertampung dalam wadah yang lebih besar. Permainan serupa dengan menunjukkan bahwa benda yang lebih kecil bisa masuk ke dalam wadah yang lebih besar juga bisa dilakukan.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2 TAHUN:

Pasel berbentuk rumah-rumahan, buah atau binatang dengan 2-3 pecahan. Untuk menyusun pasel tersebut tentu dibutuhkan keterampilan sehingga anak akan dirangsang untuk mengembangkan kemampuannya.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2,5-3 TAHUN:

· Bila sebelumnya pasel yang diberikan hanya terdiri atas beberapa keping saja, kini tingkatkan dengan pasel yang memiliki lebih banyak keping.

· Permainan rancang bangun juga sudah bisa diberikan untuk merangsang koordinasi motoriknya. Anak sudah bisa membuat susunan bangunan ke atas sambil mengimajinasikan bentuk apa yang sedang dibuatnya meskipun masih belum terbentuk jelas. Ketika anak mampu bermain rancang bangun, pujilah apa yang sudah dihasilkannya. Meskipun bentuknya hanya berupa susunan balok yang tidak beraturan, kita tetap harus memberikan apresiasi agar anak merasa dihargai. Hindari sikap mencemooh yang akan memerosotkan motivasinya dalam berkreasi.

APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MEMBELI?

Membeli mainan edukatif memang perlu selektif. Kita harus menyesuaikan dengan usia anak dan kemampuan yang dimilikinya. Berikut panduannya:

MAINAN ANAK 1 TAHUN:

Di usia batita awal anak belum memiliki kemampuan motorik yang baik. Jadi kemampuan dasar inilah yang perlu dilatih. Namun permainan untuknya haruslah sederhana dan tidak terlalu menyita waktu. Selalu dampingi si kecil saat bermain.

MAINAN ANAK 2 TAHUN:

Derajat kesulitan mainan edukatif untuk anak usia dua tahun sudah harus lebih tinggi ketimbang anak satu tahun. Bila sebelumnya yang diberikan adalah single puzzle, maka di usia ini anak bisa diajak bermain pasel dengan bentuk yang lebih kompleks.

MAINAN ANAK 2,5 ­ 3 TAHUN:

Permainan edukatif yang kita berikan harus lebih tinggi lagi tingkat kerumitannya. Di usia ini anak perlu belajar mengorganisasi bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kembali, anak juga dituntut untuk mulai belajar tekun menggunakan berbagai kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

APAKAH HARGA MAINAN EDUKATIF PASTI TERJANGKAU?

Tentu saja. Mainan edukatif tak mesti didapat dengan harga selangit. Kita bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekeliling rumah sebagai sarana permainan edukatif. Misalnya, gelas plastik bisa digunakan si kecil untuk ditumpuk-tumpuk. Ini merupakan permainan yang mengasyikkan baginya. Gelas-gelas plastik tersebut juga bisa dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar, seperti dus bekas. Aktivitas mandi juga bisa dimanfaatkan sebagai permainan edukatif. Biarkan si kecil memasukkan air ke dalam ember dengan menggunakan ciduk. Semua itu akan melatih berbagai kemampuan dasar anak.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Sumber : www.tabloid-nakita.com

Harapan Seorang Anak

Sumber : Raport Kak Farah 

Bapak, Ibu, saya anakmu …
Seandainya saya hidup dalam suasana penuh kritikan,
berarti saya belajar menjadi seorang pembenci.
dan jika saya hidup dalam suasana penuh permusuhan,
berarti saya belajar menjadi seorang pendendam.

Jika saya hidup dalam suasana penuh makian,
berarti saya belajar menjadi seorang pemberontak.
Jika saya hidup dalam suasana penuh ejekan,
berarti saya belajar menjadi seorang yang rendah diri.
Jika saya hidup dalam keadaan dikasihani,
berarti saya belajar menjadi seorang yang selalu kesal terhadap diri sendiri.
Jika saya hidup dalam suasana memalukan,
berarti saya belajar menyalahkan diri.

Jika saya hidup dalam suasana penuh pengertian,
berarti saya belajar sabar.
Jika saya hidup dalam keadaan merasakan diri saya diterima,
berarti saya belajar berkasih sayang.
Jika saya hidup dalam suasana penuh dukungan,
berarti saya belajar untuk percaya diri.
Jika saya hidup dalam suasana penuh pujian,
berarti saya belajar menghargai.
Jika saya hidup dalam suasana penuh keadilan,
berarti saya belajar menjadi seorang yang adil.
Jika saya hidup dengan kejujuran,
berarti saya belajar untuk menghargai kebenaran.
Jika saya hidup dalam suasana aman,
berarti saya belajar untuk mempercayai diri saya dan orang lain.

Jika saya hidup dalam suasana penuh restu/persetujuan,
berarti saya belajar menyukai diri saya.
Jika saya hidup dalam suasana diterima dan bersahabat,
berarti saya belajar untuk memperoleh cinta dalam hidup.
Jika saya hidup dalam suasana penuh penghargaan,
maka saya belajar untuk mempunyai tujuan hidup.

Menstimulasi Perkembangan Bahasa Anak

 

Sumber : www.kepompong.com

Pernah melihat seorang orator beraksi di atas mimbar? Jika dia seorang orator yang handal, kita pasti ikut terpengaruh oleh kata-katanya. Atau seorang pembawa acara yang menghibur lewat kata-katanya, kita pasti tidak bosan mengikuti acara yang dibawakannya. Ketrampilan bicara seorang orator atau pembawa acara handal tidak dicapai dalam sekejap saja. Banyak tahap perkembangan bahasa yang harus dilewati dan tentu saja dengan banyak latihan serta pengalaman. Dan, yang terpenting bagaimana lingkungan memberikan dukungan dan stimulasi sewaktu masa kanak mereka sehingga mereka bisa semahir sekarang ini.

Tentu tidak semua dari kita ingin anaknya menjadi orator atau pembawa acara. Namun, paling tidak semua orangtua pasti ingin anaknya melewati masa perkembangan sesuai tahapan yang diharapkan, termasuk perkembangan bahasanya. Sebelum kita lebih jauh membahas bagaimana menstimulasi perkembangan bahasa anak, ada baiknya kita lihat dulu kemampuan apa yang diharapkan dapat dicapai anak di setiap tahapan usianya.

Usia anak

Perkembangan Bahasa

6
bulan

Berespon ketika dipanggil namanya.

Berespon pada suara orang lain dengan menolehkan kepala atau melihat ke arah suara.

Berespon relevan dengan nada marah atau ramah.

1 tahun

Menggunakan satu atau lebih kata bermakna jika ingin sesuatu, bisa jadi hanya potongan kata misalnya ‘mam’ untuk makan.

Mengerti instruksi sederhana seperti ‘duduk’
Mengeluarkan kata pertama yang bermakna.

18
bulan

Kosa kata mencapai 5-20 kata, kebanyakan kata benda.

Suka mengulang kata atau kalimat.
Dapat mengikuti instruksi seperti “Tolong tutup pintunya!”

2 tahun

Bisa menyebutkan sejumlah nama benda di sekitarnya.

Menggabungkan dua kata menjadi kalimat pendek “Mama bobo”

Kosa kata mencapai 150—300 kata

Bisa berespon pada perintah seperti “Tunjukkan mana telingamu.”

3 tahun

Bisa bicara tentang masa yang lalu.

Tahu nama-nama bagian tubuhnya.

Menggunakan 3 kata dalam satu kalimat.
Kosa kata mencapai 900-1000 kata.
Bisa menyebutkan nama, usia dan jenis kelamin

Bisa menjawab pertanyaan sederhana tentang lingkungannya.

4 tahun

Tahu nama-nama binatang.

Menyebutkan nama benda yang dilihat di buku atau majalah.
Mengenal warna.
Bisa mengulang 4 digit angka.

Bisa mengulang kata dengan 4 suku kata.
Suka mengulang kata, frase, suku kata dan bunyi.

5 tahun

Bisa menggunakan kata deskriptif seperti kata sifat.
Mengerti lawan kata: kecil-besar, kasar-lembut.

Dapat berhitung sampai 10.

Bicara sangat jelas kecuali jika ada masalah pengucapan.
Dapat mengikuti 3 instruksi sekaligus.

Mengerti konsep waktu: pagi, siang, malam, besok, hari ini dan kemarin.

Bisa mengulang kalimat sepanjang 9 kata.

Perkembangan bicara dan perkembangan bahasa

adekBicara dan bahasa sering dicampur-adukkan, tapi sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya. Bicara atau speech adalah ekspresi erbal dan meliputi artikulasi, bagaimana suatu kata dibentuk oleh otot-otot bicara. Sedangkan pengertian bahasa atau language lebih luas, mengacu pada keseluruhan sistem mengekspresikan dan menerima informasi secara bermakna. Kendati masalah dalam perkembangan keduanya berbeda, mereka bisa saling tumpang tindih. Misalnya, anak dengan perkembangan bahasa bisa mengucapkan kata dengan baik tapi tidak bisa menggabungkan kata untuk membuat kalimat. Atau sebaliknya anak dapat menggunakan kata untuk mengekspresikan pemikirannya tapi artikulasinya kurang jelas.

Namun keterlambatan keduanya dapat sama-sama dideteksi dari awal dengan mengenali gejala-gejalanya sebagai berikut (dikutip dari Mary L. Gavin, MD, and Anne M.Meduri,MD – dua ahli kesehatan dan perkembangan anak):

  • Bayi yang tidak berespon pada suara di sekitarnya.
  • Anak tidak menggunakan bahasa tubuh seperti menunjuk benda atau melambaikan tangan ‘bye-bye’ di usia 12 bulan.
  • Anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh daripada bicara di usia 18 bulan.
  • Anak tidak bisa meniru bunyi di usia 18 bulan.
  • Anak hanya dapat meniru ucapan atau tindakan dan tidak menghasilkan kata secara spontan di usia lebih dari 2 tahun.
  • Anak hanya mengulang bunyi atau kata tertentu dan tidak dapat menggunakan bahasa oral untuk berkomunikasi melebihi dari kebutuhannya sehari-hari, misal minta minum, di usia lebih dari 2 tahun.
  • Tidak mampu mengikuti instruksi sederhana di usia lebih dari 2 tahun.
  • Tidak dimengerti bicaranya. Seharusnya di usia 2 tahun, orang lain dapat mengerti apa yang dikatakan anak paling tidak setengahnya.

Jika anak menunjukkan gejala ini, sebaiknya segera periksakan ke dokter anak dan psikolog perkembangan anak untuk segera dideteksi gangguan dan penanganannya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan bicara dan bahasa ini. Ada faktor yang sifatnya fisiologis seperti gangguan pada organ oral seperti pada otot lidah, gangguan pada cara kerja otak, gangguan pendengaran atau infeksi telinga. Faktor-faktor lainnya adalah kurangnya stimulasi yang diberikan pada anak. Ada kasus dimana seorang anak belum dapat bicara sampai usia 4 tahun karena lebih dari dua tahun pertamanya, anak tersebut hanya ‘berteman’ dengan televisi setiap hari.

Sebagaimana perkembangan pada aspek-aspek lain kemampuan anak, perkembangan bicara dan bahasa merupakan gabungan dari nature dan nurture. Jadi selain ada potensi bawaan anak juga perlu adanya stimulasi yang kaya dan tepat dari lingkungan agar perkembangannya optimal. Berikut beberapa ide untuk menstimulasi anak:

  • Luangkan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Ajak bicara, bernyanyi dan menirukan bunyi atau bahasa tubuh.
  • Bacakan buku cerita pada anak setiap hari 1-2 buku yang sesuai dengan usianya.
  • Gunakan setiap situasi yang ditemui sehari-hari, misalnya menyebutkan nama-nama sayur sewaktu berbelanja di hipermaket. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dapat dipahami anak.
  • Terangkan apa yang sedang dilakukan “Ini Mama sedang memasak kue kesukaanmu.”
  • Tidak membiasakan menggunakan baby talk seperti mimik untuk minum atau pus untuk kucing.
  • Sediakan alat permainan yang menstimulasi anak untuk bicara seperti telepon mainan.

Perkembangan kemampuan baca-tulis (literacy)

Perkembangan awal kemampuan baca-tulis anak sebenarnya meliputi beberapa tahapan belajar yang berbeda cara dan waktunya bagi setiap anak. Umumnya penguasaan baca-tulis terjadi di rentang usia 5 sampai 8 tahun. Di luar keunikan anak dalam pencapaian baca-tulisnya, orangtua tetap dapat memberikan stimulasi untuk mengoptimalkan perkembangan kemampuan ini asalkan bebas dari unsur pemaksaan. Berikut beberapa ide yang dapat bermanfaat untuk menstimulasi anak, paling tidak agar ia menyukai aktivitas baca-tulis terlebih dulu:

  • Mengunjungi toko buku atau perpustakaan secara rutin. Biarkan anak memilih dan melihat-lihat buku yang ia sukai. Sebelum usia 5-6 tahun, tidak masalah jika anak hanya ‘membaca’ gambar.
  • Membacakan buku setiap hari pada anak dengan tujuan agar ia melihat bagaimana cara membaca. Sesekali beri kesempatan padanya untuk ‘membaca’ dan ganti orangtua yang mendengarkan.
  • Contohkan perilaku membaca dan tunjukkan betapa menyenangkannya membaca itu, misalnya ayah/ibu membaca koran setiap hari dan tunjukkan banyak berita menarik di dalamnya.
  • Untuk mengembangkan kemampuan menulis, mulailah dari bentuk komunikasi tulisan yang sederhana dulu, yaitu menggambar. Ajak anak menggambar dan nanti lama-kelamaan menuliskan sesuatu semampunya untuk tujuan tertentu, misalnya mengirim gambar atau surat untuk nenek di luar kota dan menuliskan pesan singkat untuk ayah yang pulang malam.

Orangtua adalah guru pertama dan guru yang paling berpengaruh pada anak. Jadi bagaimana orangtua pertama kali memperkenalkan baca-tulis sangat menentukan bagaimana pandangan anak tentang hal ini. Jika penuh paksaan yang berlebihan dari usianya, maka anak justru malah membenci baca-tulis. Sebaliknya, jika disampaikan dengan cara menyenangkan, anak pun akan suka dan kemampuan ini akan berkembang dengan sendirinya. ***

Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi.

 

Bunda, Mari Mengamati Buah Hati Kita

Oleh : Siti Aisyah Nurmi

Sumber : www.eramuslim.com

 

Siapakah anak kita? Bayi mungil yang ditimang ibu dan ayah saat pertama kali?
Sembilan bulan sepuluh hari seorang ibu membawa bayinya dalam kandungan, secara naluri seorang ibu ia sudah mengenalinya. Betapapun ia belum pernah melihatnya, namun perasaan saling mengenal sudah tertanam di antara ibu dan anak.

Sepanjang hidup anak berkembang dan berubah, seiring itu pulalah sebaiknya sang ibu tetap mengamati dan mencoba mengenal anaknya.

Sejak dalam kandungan, sang ibu sudah dapat membedakan apakah anak yang ini terbilang gesit karena banyak geraknya di dalam kandungan, atau tergolong tenang. Sepanjang kehamilan, sebagian ibu menyempatkan diri berdialog dengan jabang bayinya lewat usapan lembut di kulit perutnya, dan kadang ada “jawabannya” dari dalam berupa tendangan halus atau terasa sang jabang bayi bergerak.

Inilah yang menyebabkan orang tidak boleh meremehkan naluri seorang ibu terhadap anaknya, sebab hubungan batin sudah terjalin lewat komunikasi aktif bahkan sejak masih dalam kandungan. Ini juga yang menyebabkan anak yang tidak dikehendaki (unwanted child) seringkali berkembang menjadi pribadi bermasalah, karena sejak masih dalam kandungan iapun sudah merasa tidak diterima, lewat cara bagaimana sang ibu memperlakukan kandungannya sendiri.

Selanjutnya, perkenalan pertama itupun terjadilah. Pandangan pertama ini segera menguatkan rasa cinta yang mendalam dan sang ibu mulai mengamati wajah buah hatinya. Seperti siapakah dia? Demikian pertanyaan yang paling pertama muncul. Laki-laki atau perempuan? Cantikkah? Gantengkah?

Seorang sholihah yang pandai bersyukur tak akan berlama-lama mempersoalkan penampilan fisik, rupa maupun jenis kelamin. Ibu sholihat segera mengisi hatinya dengan rasa syukur dan segera menerima buah hatinya dengan hati lapang. Sebaliknya, seorang ibu yang kurang pandai bersyukur mungkin menyesali bahwa bayinya lahir dengan jenis kelamin yang tidak diharapkannya. Atau merasa kecewa karena anaknya tidak mirip dirinya, atau kecewa dengan cacat-cacat fisik lain, dan lain sebagainya.

Ibu sholihat kelak akan lebih mudah melakukan pengamatan dan pengenalan yang benar terhadap anaknya. Sedang ibu yang kurang bersyukur justru akan mengalami hambatan dalam mengenali anaknya. Kekecewaan dirinya akan menjadi sekat pengamatan. Ia memandang anaknya tidak dengan obyektif karena sudah dilandasi rasa kecewa tadi. Semakin besar kekecewaannya, semakin sulit ia menemukan kebaikan atau kelebihan anaknya. Dapat dibayangkan, anak seperti ini sejak lahir sudah mempunyai beban yang berat dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Tahun-tahun pertama bersama, jika si anak beruntung, ia akan mendapatkan kasih sayang yang cukup. Ini akan membuatnya tumbuh kembang dengan sehat dan optimal. Semakin pandai sang ibu mengasuhnya, semakin optimal bakatnya berkembang dan akan semakin cemerlanglah dia. Tidak ada bakat yang jelek yang akan membawa seseorang kepada takdir keburukan. Allah Maha Adil.

Sejumlah sifat bawaan hanya membawa kemungkinan yang masih perlu diformat lagi oleh faktor pengalaman hidup anak tersebut. Jika sang anak kurang beruntung, ia akan tumbuh kembang dalam lingkungan yang merugikan dirinya. Semakin buruk perlakuan yang diterimanya, akan berinteraksi dengan bakat bawaannya menjadi sifat-sifat buruk dan lemah.

Lima tahun pertama hidupnya merupakan masa-masa penting. Umumnya di usia ini anak masih tergantung pada ibu. Oleh karena itu, ibu-lah yang paling dominan dalam membentuk karakter dasar seseorang. Tidaklah heran jika para ibu menjadi target perusakan oleh musuh.

Tragedi Bosnia salah satu contoh ekstrimnya. Pemerkosaan massal atas kaum wanita suatu bangsa sama juga dengan menghancurkan karakter seluruh bangsa selama beberapa generasi.

ceriaIbu sholihat akan memanfaatkan golden age ini sebaik-baiknya. Sahabat Ali Ra menganjurkan agar dalam tujuh tahun pertama anak dibesarkan dengan penuh permainan, karena selain cara itulah yang paling cocok dengan perkembangan otaknya, juga agar anak mengawali tahun-tahun pertamanya dengan kegembiraan, bukan kesedihan atau beban kewajiban. Pribadi yang gembira lebih berpotensi menjadi pribadi yang kuat.

Coba amati anak kita, apakah ia sudah tampak sebagai anak yang ceria? Jika tampak belum cukup ceria, atau bahkan tampak agak menarik diri, segeralah amati dengan teliti. Semoga bukan karena ada kelainan perkembangan atau cacat fisik yang belum diketahui. Jika penyebabnya sudah diketahui, maka coba pelajari bagaimana mengatasinya, jika perlu, carilah bantuan profesional.

Sebagian besar kelainan anak diketahui pertama kali oleh pengamatan jeli sang ibu. Semakin jeli seorang ibu mengamati anak, semakin cepat cacat atau kelemahan anak diketahui dan Insya Allah akan semakin mudah pula ditangani sejak dini.

Tahun-tahun berlalu kemudian buah hati kita mulai mengenal otoritas lain, yaitu guru. Kini sebagian waktunya ia lewatkan bersama orang lain. Ibu yang bijaksana akan membangun hubungan baik dengan guru anaknya, sehingga pendidikan rumah dan sekolah tetap bersambung. Jika tidak, anak akan mengalami kebingunan karena adanya perbedaan-perbedaan pendapat antara orangtua dan guru berbeda.

Ibu bijaksana juga akan aktif bertanya dan memberi masukan kepada guru tetang perkembangan anaknya. Ia tak akan kehilangan kesempatan mengamati anaknya meskipun ia tidak lagi selalu bersama anaknya.

Tahapan pengamatan dan pengenalan terakhir yang akan dilalui bersama antara ibu dan anak adalah memasuki usia dewasa. Diawali dengan masa transisi yang disebut remaja.

Di masa ini, ibu dan anak seringkali kehilangan pola komunikasi yang selama ini sudah terbentuk dengan baik. Ini karena sifat dari tahapan itu sendiri. Tahapan remaja adalah tahapan gejolak, di mana banyak perubahan besar terjadi.

Perubahan terbesar adalah perubahan status antara kanak-kanak menjadi dewasa. Masa ini diakui sebagai masa sulit bagi ibu dan dan anak yang bahkan sebelumnya cukup harmonis. Bagi yang sebelumnya sudah tidak harmonis. Sedangkan bagi hubungan yang sebelumnya sudah terputus, maka masa ini menjadi masa yang mengokohkan keterpisahan antara orangtua dengan anaknya.

Jika itu semua sudah dilalui dengan sukses, Insya Allah seorang bunda akandengan mudah mengenali siapa anaknya, dan juga berarti akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Wallahu a’lam (SAN)

 

Membangun Komunikasi Dengan Anak

Kemarin, Senin (19/08/2008), saya mengikuti seminar setengah hari yang diadakan oleh majlis ta’lim ibu-ibu di dekat tempat tinggal. Seminar ini mengambil tema seperti judul di atas, yang disampaikan oleh seorang psikolog,  Ibu Aida Malikha, S.Psi. Sebagai seorang ibu muda yang masih harus banyak belajar dalam mendidik anak, saya senang sekali mengikuti seminar ini karena mendapatkan ilmu praktis yang langsung dapat saya coba ketika menghadapi anak-anak saya.

Membuka paparannya, Ibu psikolog menjelaskan bagaimana sulitnya berprofesi sebagai orang tua, dimana waktu kerjanya 24 jam, tidak kenal lelah. Menjadi orang tua juga tidak ada sekolahnya, belajarnya sambil jalan dan sambil coba-coba.

Berikut beberapa tips yang dapat dilaksanakan agar tercipta komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak :

  1. Perhatikan anak ketika berbuat baik. Ketika anak melakukan sesuatu yang baik, beri pujian atau sanjungan sehingga dia merasa senang, dengan demikian anak cenderung akan mengulang perbuatan baiknya.

  2. Memupuk rasa harga diri anak. Dengan tidak menjatuhkan harga diri anak misalnya dengan mengucapkan kata-kata yang dapat menjatuhkan harga diri anak, seperti jika anak tidak dapat melakukan sesuatu kita sebut “bodoh”, atau lain sebagainya. Jika hal tsb sering diucapkan pada anak, maka pada diri anak akan tercipta suatu keyakinan bahwa dia memang bodoh.

  3. Menetapkan peraturan dan bersikap konsisten. Jika kita sebagai orang tua telah membuat suatu aturan didalam rumah, maka jangan sekali-kali kita langgar agar anak juga mematuhi aturan yang telah kita buat. Dan yang perlu diingat dalam membuat aturan, gunakan kata-kata yang positif, jauhi kata-kata “tidak boleh”. Misalnya kita mau buat aturan kalau mau nonton TV harus mandi dulu, jangan gunakan kalimat “Kalau belum mandi tidak boleh nonton TV”, tetapi gunakanlah kalimat “Yang sudah mandi boleh nonton TV”.

  4. Menyediakan waktu untuk anak. Sebagai orang tua yang super sibuk kita perlu menyediakan waktu khusus untuk anak, apakah menemaninya bermain, mengerjakan PR, atau bercerita apa saja yang membuat anak merasakan perhatian kita.

  5. Memberikan teladan yang baik. Jika kita mengajarkan sesuatu kepada anak, maka kitalah yang pertama kali memberikan teladan kepadanya mengenai hal tersebut.

  6. Membangun komunikasi. Membangun komunikasi perlu kita sesuaikan dengan usia anak, karena berbeda usia berbeda pula pola komunikasi yang digunakan. Misalnya dengan anak balita, jika kita ingin menyampaikan sesuatu, pertama kita panggil namanya, jika dia belum respon kita sentuh pundaknya, baru kita sampaikan apa yang ingin kita sampaikan.

  7. Luwes dalam pola pengasuhan. Jika kita memiliki beberapa orang anak, pola pengasuhan yang kita terapkan pada masing-masing anak disesuaikan dengan karakter masing-masing anak, tidak bisa kita terapkan satu pola pangasuhan yang sama, karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda.

  8. Menunjukkan bahwa cinta kita tidak terbatas. Misalnya jangan kita katakan pada anak, “Kalau kamu nilainya jelek, mama nggak sayang lagi…”,  Nanti jika anak kita mendapat nilai jelek suatu waktu, dia cenderung akan menyembunyikannya. Tetapi katakanlah, “Mama sayang sama kamu, tetapi mama tidak suka kalau kamu malas belajar…”, misalnya.

  9. Menyadari kebodohan dan keterbatasan diri. Sebagai manusia, kita tentu memiliki keterbatasan termasuk dalam mengasuh anak, jika kita sampai pada situasi tsb, maka jangan ragu untuk minta tolong pada suami atau orang lain, sehingga anak kita tidak menjadi sasaran emosi kita. Misalnya, anak kita menangis terus-menerus, sudah kita bujuk tetapi tidak juga berhenti akahirnya emosi kita mulai naik, segeralah minta tolong pada suami atau orang lain untuk menenangkan anak tsb, nanti jika emosi kita sudah stabil lagi baru kita coba lagi menghadapi anak tsb.

Mungkin demikian sedikit ilmu yang dapat saya share, semoga bermanfaat untuk kita dalam belajar menjadi orang tua.

Lima Poin Pendidikan Anak Dalam Islam

Oleh Siti Aisyah Nurmi

Sumber : www.eramuslim.com

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:

1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.

2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.

3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.

Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:

Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)