Sumber : www.kepompong.com
Pernah melihat seorang orator beraksi di atas mimbar? Jika dia seorang orator yang handal, kita pasti ikut terpengaruh oleh kata-katanya. Atau seorang pembawa acara yang menghibur lewat kata-katanya, kita pasti tidak bosan mengikuti acara yang dibawakannya. Ketrampilan bicara seorang orator atau pembawa acara handal tidak dicapai dalam sekejap saja. Banyak tahap perkembangan bahasa yang harus dilewati dan tentu saja dengan banyak latihan serta pengalaman. Dan, yang terpenting bagaimana lingkungan memberikan dukungan dan stimulasi sewaktu masa kanak mereka sehingga mereka bisa semahir sekarang ini.
Tentu tidak semua dari kita ingin anaknya menjadi orator atau pembawa acara. Namun, paling tidak semua orangtua pasti ingin anaknya melewati masa perkembangan sesuai tahapan yang diharapkan, termasuk perkembangan bahasanya. Sebelum kita lebih jauh membahas bagaimana menstimulasi perkembangan bahasa anak, ada baiknya kita lihat dulu kemampuan apa yang diharapkan dapat dicapai anak di setiap tahapan usianya.
|
Usia anak |
Perkembangan Bahasa |
|
6 |
Berespon ketika dipanggil namanya. Berespon pada suara orang lain dengan menolehkan kepala atau melihat ke arah suara. Berespon relevan dengan nada marah atau ramah. |
|
1 tahun |
Menggunakan satu atau lebih kata bermakna jika ingin sesuatu, bisa jadi hanya potongan kata misalnya ‘mam’ untuk makan. Mengerti instruksi sederhana seperti ‘duduk’ |
|
18 |
Kosa kata mencapai 5-20 kata, kebanyakan kata benda. Suka mengulang kata atau kalimat. |
|
2 tahun |
Bisa menyebutkan sejumlah nama benda di sekitarnya. Menggabungkan dua kata menjadi kalimat pendek “Mama bobo” Kosa kata mencapai 150—300 kata Bisa berespon pada perintah seperti “Tunjukkan mana telingamu.” |
|
3 tahun |
Bisa bicara tentang masa yang lalu. Tahu nama-nama bagian tubuhnya. Menggunakan 3 kata dalam satu kalimat. Bisa menjawab pertanyaan sederhana tentang lingkungannya. |
|
4 tahun |
Tahu nama-nama binatang. Menyebutkan nama benda yang dilihat di buku atau majalah. Bisa mengulang kata dengan 4 suku kata. |
|
5 tahun |
Bisa menggunakan kata deskriptif seperti kata sifat. Dapat berhitung sampai 10. Bicara sangat jelas kecuali jika ada masalah pengucapan. Mengerti konsep waktu: pagi, siang, malam, besok, hari ini dan kemarin. Bisa mengulang kalimat sepanjang 9 kata. |
Perkembangan bicara dan perkembangan bahasa
Bicara dan bahasa sering dicampur-adukkan, tapi sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya. Bicara atau speech adalah ekspresi erbal dan meliputi artikulasi, bagaimana suatu kata dibentuk oleh otot-otot bicara. Sedangkan pengertian bahasa atau language lebih luas, mengacu pada keseluruhan sistem mengekspresikan dan menerima informasi secara bermakna. Kendati masalah dalam perkembangan keduanya berbeda, mereka bisa saling tumpang tindih. Misalnya, anak dengan perkembangan bahasa bisa mengucapkan kata dengan baik tapi tidak bisa menggabungkan kata untuk membuat kalimat. Atau sebaliknya anak dapat menggunakan kata untuk mengekspresikan pemikirannya tapi artikulasinya kurang jelas.
Namun keterlambatan keduanya dapat sama-sama dideteksi dari awal dengan mengenali gejala-gejalanya sebagai berikut (dikutip dari Mary L. Gavin, MD, and Anne M.Meduri,MD – dua ahli kesehatan dan perkembangan anak):
- Bayi yang tidak berespon pada suara di sekitarnya.
- Anak tidak menggunakan bahasa tubuh seperti menunjuk benda atau melambaikan tangan ‘bye-bye’ di usia 12 bulan.
- Anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh daripada bicara di usia 18 bulan.
- Anak tidak bisa meniru bunyi di usia 18 bulan.
- Anak hanya dapat meniru ucapan atau tindakan dan tidak menghasilkan kata secara spontan di usia lebih dari 2 tahun.
- Anak hanya mengulang bunyi atau kata tertentu dan tidak dapat menggunakan bahasa oral untuk berkomunikasi melebihi dari kebutuhannya sehari-hari, misal minta minum, di usia lebih dari 2 tahun.
- Tidak mampu mengikuti instruksi sederhana di usia lebih dari 2 tahun.
- Tidak dimengerti bicaranya. Seharusnya di usia 2 tahun, orang lain dapat mengerti apa yang dikatakan anak paling tidak setengahnya.
Jika anak menunjukkan gejala ini, sebaiknya segera periksakan ke dokter anak dan psikolog perkembangan anak untuk segera dideteksi gangguan dan penanganannya.
Ada banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan bicara dan bahasa ini. Ada faktor yang sifatnya fisiologis seperti gangguan pada organ oral seperti pada otot lidah, gangguan pada cara kerja otak, gangguan pendengaran atau infeksi telinga. Faktor-faktor lainnya adalah kurangnya stimulasi yang diberikan pada anak. Ada kasus dimana seorang anak belum dapat bicara sampai usia 4 tahun karena lebih dari dua tahun pertamanya, anak tersebut hanya ‘berteman’ dengan televisi setiap hari.
Sebagaimana perkembangan pada aspek-aspek lain kemampuan anak, perkembangan bicara dan bahasa merupakan gabungan dari nature dan nurture. Jadi selain ada potensi bawaan anak juga perlu adanya stimulasi yang kaya dan tepat dari lingkungan agar perkembangannya optimal. Berikut beberapa ide untuk menstimulasi anak:
- Luangkan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Ajak bicara, bernyanyi dan menirukan bunyi atau bahasa tubuh.
- Bacakan buku cerita pada anak setiap hari 1-2 buku yang sesuai dengan usianya.
- Gunakan setiap situasi yang ditemui sehari-hari, misalnya menyebutkan nama-nama sayur sewaktu berbelanja di hipermaket. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dapat dipahami anak.
- Terangkan apa yang sedang dilakukan “Ini Mama sedang memasak kue kesukaanmu.”
- Tidak membiasakan menggunakan baby talk seperti mimik untuk minum atau pus untuk kucing.
- Sediakan alat permainan yang menstimulasi anak untuk bicara seperti telepon mainan.
Perkembangan kemampuan baca-tulis (literacy)
Perkembangan awal kemampuan baca-tulis anak sebenarnya meliputi beberapa tahapan belajar yang berbeda cara dan waktunya bagi setiap anak. Umumnya penguasaan baca-tulis terjadi di rentang usia 5 sampai 8 tahun. Di luar keunikan anak dalam pencapaian baca-tulisnya, orangtua tetap dapat memberikan stimulasi untuk mengoptimalkan perkembangan kemampuan ini asalkan bebas dari unsur pemaksaan. Berikut beberapa ide yang dapat bermanfaat untuk menstimulasi anak, paling tidak agar ia menyukai aktivitas baca-tulis terlebih dulu:
- Mengunjungi toko buku atau perpustakaan secara rutin. Biarkan anak memilih dan melihat-lihat buku yang ia sukai. Sebelum usia 5-6 tahun, tidak masalah jika anak hanya ‘membaca’ gambar.
- Membacakan buku setiap hari pada anak dengan tujuan agar ia melihat bagaimana cara membaca. Sesekali beri kesempatan padanya untuk ‘membaca’ dan ganti orangtua yang mendengarkan.
- Contohkan perilaku membaca dan tunjukkan betapa menyenangkannya membaca itu, misalnya ayah/ibu membaca koran setiap hari dan tunjukkan banyak berita menarik di dalamnya.
- Untuk mengembangkan kemampuan menulis, mulailah dari bentuk komunikasi tulisan yang sederhana dulu, yaitu menggambar. Ajak anak menggambar dan nanti lama-kelamaan menuliskan sesuatu semampunya untuk tujuan tertentu, misalnya mengirim gambar atau surat untuk nenek di luar kota dan menuliskan pesan singkat untuk ayah yang pulang malam.
Orangtua adalah guru pertama dan guru yang paling berpengaruh pada anak. Jadi bagaimana orangtua pertama kali memperkenalkan baca-tulis sangat menentukan bagaimana pandangan anak tentang hal ini. Jika penuh paksaan yang berlebihan dari usianya, maka anak justru malah membenci baca-tulis. Sebaliknya, jika disampaikan dengan cara menyenangkan, anak pun akan suka dan kemampuan ini akan berkembang dengan sendirinya. ***
Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi.









