Membangun Komunikasi Dengan Anak

Kemarin, Senin (19/08/2008), saya mengikuti seminar setengah hari yang diadakan oleh majlis ta’lim ibu-ibu di dekat tempat tinggal. Seminar ini mengambil tema seperti judul di atas, yang disampaikan oleh seorang psikolog,  Ibu Aida Malikha, S.Psi. Sebagai seorang ibu muda yang masih harus banyak belajar dalam mendidik anak, saya senang sekali mengikuti seminar ini karena mendapatkan ilmu praktis yang langsung dapat saya coba ketika menghadapi anak-anak saya.

Membuka paparannya, Ibu psikolog menjelaskan bagaimana sulitnya berprofesi sebagai orang tua, dimana waktu kerjanya 24 jam, tidak kenal lelah. Menjadi orang tua juga tidak ada sekolahnya, belajarnya sambil jalan dan sambil coba-coba.

Berikut beberapa tips yang dapat dilaksanakan agar tercipta komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak :

  1. Perhatikan anak ketika berbuat baik. Ketika anak melakukan sesuatu yang baik, beri pujian atau sanjungan sehingga dia merasa senang, dengan demikian anak cenderung akan mengulang perbuatan baiknya.

  2. Memupuk rasa harga diri anak. Dengan tidak menjatuhkan harga diri anak misalnya dengan mengucapkan kata-kata yang dapat menjatuhkan harga diri anak, seperti jika anak tidak dapat melakukan sesuatu kita sebut “bodoh”, atau lain sebagainya. Jika hal tsb sering diucapkan pada anak, maka pada diri anak akan tercipta suatu keyakinan bahwa dia memang bodoh.

  3. Menetapkan peraturan dan bersikap konsisten. Jika kita sebagai orang tua telah membuat suatu aturan didalam rumah, maka jangan sekali-kali kita langgar agar anak juga mematuhi aturan yang telah kita buat. Dan yang perlu diingat dalam membuat aturan, gunakan kata-kata yang positif, jauhi kata-kata “tidak boleh”. Misalnya kita mau buat aturan kalau mau nonton TV harus mandi dulu, jangan gunakan kalimat “Kalau belum mandi tidak boleh nonton TV”, tetapi gunakanlah kalimat “Yang sudah mandi boleh nonton TV”.

  4. Menyediakan waktu untuk anak. Sebagai orang tua yang super sibuk kita perlu menyediakan waktu khusus untuk anak, apakah menemaninya bermain, mengerjakan PR, atau bercerita apa saja yang membuat anak merasakan perhatian kita.

  5. Memberikan teladan yang baik. Jika kita mengajarkan sesuatu kepada anak, maka kitalah yang pertama kali memberikan teladan kepadanya mengenai hal tersebut.

  6. Membangun komunikasi. Membangun komunikasi perlu kita sesuaikan dengan usia anak, karena berbeda usia berbeda pula pola komunikasi yang digunakan. Misalnya dengan anak balita, jika kita ingin menyampaikan sesuatu, pertama kita panggil namanya, jika dia belum respon kita sentuh pundaknya, baru kita sampaikan apa yang ingin kita sampaikan.

  7. Luwes dalam pola pengasuhan. Jika kita memiliki beberapa orang anak, pola pengasuhan yang kita terapkan pada masing-masing anak disesuaikan dengan karakter masing-masing anak, tidak bisa kita terapkan satu pola pangasuhan yang sama, karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda.

  8. Menunjukkan bahwa cinta kita tidak terbatas. Misalnya jangan kita katakan pada anak, “Kalau kamu nilainya jelek, mama nggak sayang lagi…”,  Nanti jika anak kita mendapat nilai jelek suatu waktu, dia cenderung akan menyembunyikannya. Tetapi katakanlah, “Mama sayang sama kamu, tetapi mama tidak suka kalau kamu malas belajar…”, misalnya.

  9. Menyadari kebodohan dan keterbatasan diri. Sebagai manusia, kita tentu memiliki keterbatasan termasuk dalam mengasuh anak, jika kita sampai pada situasi tsb, maka jangan ragu untuk minta tolong pada suami atau orang lain, sehingga anak kita tidak menjadi sasaran emosi kita. Misalnya, anak kita menangis terus-menerus, sudah kita bujuk tetapi tidak juga berhenti akahirnya emosi kita mulai naik, segeralah minta tolong pada suami atau orang lain untuk menenangkan anak tsb, nanti jika emosi kita sudah stabil lagi baru kita coba lagi menghadapi anak tsb.

Mungkin demikian sedikit ilmu yang dapat saya share, semoga bermanfaat untuk kita dalam belajar menjadi orang tua.

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.