Archive for August, 2008

Membangun Komunikasi Dengan Anak

Kemarin, Senin (19/08/2008), saya mengikuti seminar setengah hari yang diadakan oleh majlis ta’lim ibu-ibu di dekat tempat tinggal. Seminar ini mengambil tema seperti judul di atas, yang disampaikan oleh seorang psikolog,  Ibu Aida Malikha, S.Psi. Sebagai seorang ibu muda yang masih harus banyak belajar dalam mendidik anak, saya senang sekali mengikuti seminar ini karena mendapatkan ilmu praktis yang langsung dapat saya coba ketika menghadapi anak-anak saya.

Membuka paparannya, Ibu psikolog menjelaskan bagaimana sulitnya berprofesi sebagai orang tua, dimana waktu kerjanya 24 jam, tidak kenal lelah. Menjadi orang tua juga tidak ada sekolahnya, belajarnya sambil jalan dan sambil coba-coba.

Berikut beberapa tips yang dapat dilaksanakan agar tercipta komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak :

  1. Perhatikan anak ketika berbuat baik. Ketika anak melakukan sesuatu yang baik, beri pujian atau sanjungan sehingga dia merasa senang, dengan demikian anak cenderung akan mengulang perbuatan baiknya.

  2. Memupuk rasa harga diri anak. Dengan tidak menjatuhkan harga diri anak misalnya dengan mengucapkan kata-kata yang dapat menjatuhkan harga diri anak, seperti jika anak tidak dapat melakukan sesuatu kita sebut “bodoh”, atau lain sebagainya. Jika hal tsb sering diucapkan pada anak, maka pada diri anak akan tercipta suatu keyakinan bahwa dia memang bodoh.

  3. Menetapkan peraturan dan bersikap konsisten. Jika kita sebagai orang tua telah membuat suatu aturan didalam rumah, maka jangan sekali-kali kita langgar agar anak juga mematuhi aturan yang telah kita buat. Dan yang perlu diingat dalam membuat aturan, gunakan kata-kata yang positif, jauhi kata-kata “tidak boleh”. Misalnya kita mau buat aturan kalau mau nonton TV harus mandi dulu, jangan gunakan kalimat “Kalau belum mandi tidak boleh nonton TV”, tetapi gunakanlah kalimat “Yang sudah mandi boleh nonton TV”.

  4. Menyediakan waktu untuk anak. Sebagai orang tua yang super sibuk kita perlu menyediakan waktu khusus untuk anak, apakah menemaninya bermain, mengerjakan PR, atau bercerita apa saja yang membuat anak merasakan perhatian kita.

  5. Memberikan teladan yang baik. Jika kita mengajarkan sesuatu kepada anak, maka kitalah yang pertama kali memberikan teladan kepadanya mengenai hal tersebut.

  6. Membangun komunikasi. Membangun komunikasi perlu kita sesuaikan dengan usia anak, karena berbeda usia berbeda pula pola komunikasi yang digunakan. Misalnya dengan anak balita, jika kita ingin menyampaikan sesuatu, pertama kita panggil namanya, jika dia belum respon kita sentuh pundaknya, baru kita sampaikan apa yang ingin kita sampaikan.

  7. Luwes dalam pola pengasuhan. Jika kita memiliki beberapa orang anak, pola pengasuhan yang kita terapkan pada masing-masing anak disesuaikan dengan karakter masing-masing anak, tidak bisa kita terapkan satu pola pangasuhan yang sama, karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda.

  8. Menunjukkan bahwa cinta kita tidak terbatas. Misalnya jangan kita katakan pada anak, “Kalau kamu nilainya jelek, mama nggak sayang lagi…”,  Nanti jika anak kita mendapat nilai jelek suatu waktu, dia cenderung akan menyembunyikannya. Tetapi katakanlah, “Mama sayang sama kamu, tetapi mama tidak suka kalau kamu malas belajar…”, misalnya.

  9. Menyadari kebodohan dan keterbatasan diri. Sebagai manusia, kita tentu memiliki keterbatasan termasuk dalam mengasuh anak, jika kita sampai pada situasi tsb, maka jangan ragu untuk minta tolong pada suami atau orang lain, sehingga anak kita tidak menjadi sasaran emosi kita. Misalnya, anak kita menangis terus-menerus, sudah kita bujuk tetapi tidak juga berhenti akahirnya emosi kita mulai naik, segeralah minta tolong pada suami atau orang lain untuk menenangkan anak tsb, nanti jika emosi kita sudah stabil lagi baru kita coba lagi menghadapi anak tsb.

Mungkin demikian sedikit ilmu yang dapat saya share, semoga bermanfaat untuk kita dalam belajar menjadi orang tua.

TELKOMHotspot

PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk (TELKOM) menghadirkan layanan TELKOMHotspot dengan teknologi wireless (Wi-Fi 802.11b). Untuk menikmati layanan ini cukup dengan menggunakan kartu i-VAS.

Petunjuk Pemakaian TELKOMHotspot

  • Aktifkan Wi-Fi dan pilih SSID = telkomhotspot
  • Buka browser internet
  • Ketik alamat URL yang dituju dan web TELKOMHotspot akan muncul.
  • Masukkan:

    1. user name <10 digit login_id IVAS>
    2. password <4 digit password IVAS>

    Akses ke internet siap digunakan.

  • Kembali ke web TELKOMHotspot dan klik log off untuk logout
  • Lokasi TELKOMHotspot

    Untuk tahap awal, pengguna TELKOMHotspot dapat mengakses internet pada lokasi-lokasi yang tersedia yaitu :

    No Divre Lokasi
    1 I Starbucks Sun Plasa, Medan
    2 I Bandara Polonia Medan
    3 I Papa Rons Pizza, Plaza Andalas Padang
    4 I Bandara Hang Nadim, Batam
    5 I Hotel Ratu, Jambi
    6 I Plasa Telkom Medan
    7 I Novotel Hotel, Jambi
    8 I Hotel Maddinah, NAD
    9 I Kafe Cabe Rawit,Medan
    10 I Astra Auto, Medan
    11 I Medan Fair Plaza, Medan
    12 I Taman Setiabudi, Medan
    13 I Lap Golf Setiabudi, Medan
    14 I Bandara Sultan Syarif II, Pekanbaru
    15 I Olala kafe, Pekanbaru
    16 I Kafe Excelso, Pekanbaru
    17 I Dome Station, Pekanbaru
    18 I Kafe Excelso,Sun Plasa Medan
    19 II Dharmawangsa Square, Jakarta
    20 II Plaza Indonesia, Jakarta
    21 II Stasiun Gambir, Jakarta
    22 II Strabucks Kelapa Gading Mall, Jakarta
    23 II Starbucks La Piazza, Jakarta
    24 II Starbucks Puri Indah, Jakarta
    25 II Warung Pasta Kemang, Jakarta
    26 II Langsat Corner, Jakarta
    27 II Corica Pastries,Jakarta
    28 II Chez Dian Coffe, Kemang , Jakarta
    29 II Mahi Mahi Restaurant, Jakarta
    30 II The Brains Kemang, Jakarta
    31 II Starbucks Formule 1, Jakarta
    32 II Starbucks Botani Square, Bogor
    33 II M2Plus,Jakarta
    34 II Grand Indonesia, Jakarta
    35 II Starbucks Ancol, Jakarta
    36 II Starbucks Debenhams, Jakarta
    37 III Starbucks Bandung Indah Plaza, Bandung
    38 III Hotel Aston, Bandung
    39 III Hotel Topas, Bandung
    40 III Stasiun KA BDG
    41 III Hotel Sumber Alam, Bandung
    42 III Hotel Papandayan, Bandung
    43 III Bandung Electronic Center
    44 III Hotel Crown,Tasikmalaya
    45 III Mayasari Plaza, Tasikmalaya
    46 III Universitas Siliwangi, Tasikmalaya
    47 III Taman Ganesha, Bandung
    48 III Hotel Zamrud, Cirebon
    49 III Sukabumi Indah Plaza, Sukabumi
    50 III Puncak Inn Resort, Puncak
    51 III Toserba Yogya, Sukabumi
    52 III Hotel Ciloto Indah Permai
    53 III Hotel Puri meru, Cianjur
    54 IV Hotel Dynasty Purwokerto
    55 IV Quality Hotel Wahid Salatiga
    56 IV Solo Grand Mall
    57 IV DDN Yogya
    58 IV Hotel Sahid KR, Solo
    59 IV Starbucks Ambarukmo, DIY
    60 V Starbucks Tunjungan Plaza, Surabaya
    61 V Bandara Juanda Surabaya
    62 V Bandara Juanda Surabaya 2
    64 V RSU DR Sutomo Surabaya
    65 V Taman Bungkul Surabaya
    66 V Sea master Surabaya
    67 V Tunjungan Elektronik Center, Surabaya
    68 V Hotel Graha Cakra malang
    69 V Sun City mall, Sidoarjo
    70 V Magnet Zone, Surabaya
    71 VI Hotel Dandang Tingang,Palangkaraya
    72 VI Mall Lembu Swana, Samarinda
    73 VI Hotel Banjarmasin, Internasional
    74 VII Balaikota Makasar
    75 VII Bali Nirwana Resort
    76 VII Hotel Dynasty , Bali
    77 VII Legian (Starbucks)
    78 VII Quality Hotel, Makasar
    79 VII RIMO, Bali
    80 VII Ambon Area
    81 VII Palu Area
    82 VII Mataram Mall
    83 VII Makasar Area
    84 VII Panakukang Area
    85 VII Cyber Zone manado
    86 VII Lombok Garden
    87 VII Hotel Swiss Bell Papua
    88 VII Palu Area
    89 VII Kuta Cyber Beach
    90 VII Hotel Jayakarta Lombok
    91 VII Manado Area
    92 VII Café Square Senggigi
    93 VII Hotel Sentani Papua
    94 VII Bandara Hasanudin Makasar
    95 VII Bandara Sentani Papua

    Sumber : www.telkom.net

    Persiapan Menyambut Ramadhan Secara Maksimal

    Hudzaifah.org – Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

    Persiapan Mental
    Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

    Persiapan ruhiyah (spiritual)
    Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

    Persiapan fikriyah
    Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

    Persiapan Fisik dan Materi
    Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

    • Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).

    • Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.

    • Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).

    Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.

    Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)
    Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11). Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).

    Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)
    Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

    Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).

    Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hud 52)

    Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah
    Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

    Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)
    Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah. []

    Sumber : Panduan Ibadah Ramadhan, Iman Santoso, Lc.

    I-VAS, Satu Kartu Multi Layanan Internet

    Saat ini beragam layanan telah tersedia di internet mulai dari metode pembelajaran online (E-Learning), Game Online, dan lain sebagainya. Sejalan dengan perkembangan internet yang penggunaannya semakin meluas di Indonesia maka keragaman konten didalamnya semakin lama semakin banyak.

    Hal ini tentunya memunculkan kebutuhan sebuah alat bayar di internet yang terpercaya untuk dapat memfasilitasi proses pembayaran dengan nilai nominal yang tidak terlalu besar. Untuk kondisi seperti ini penggunaan kartu kredit kurang cocok mengingat nilai nominal transaksinya tidak terlalu besar.

    TELKOM mencoba memberi solusi atas kondisi tersebut dengan meluncurkan produk kartu i-VAS “Satu Kartu Multi Layanan Internet” yang menjadi alat bayar untuk berbagai konten atau layanan internet yang bersifat micropayment. Micropayment berarti transaksi-transaksi yang nilainya tidak terlalu besar, misalkan di bawah Rp 200.000.

    i-VAS (Internet Value Added Service) adalah alat bayar micropayment dengan sistem pra-bayar untuk berbagai konten atau layanan internet. i-VAS memberikan kemudahan bagi para pengguna internet untuk melakukan pembayaran berbagai macam layanan dan konten internet dengan cara yang aman, cepat dan mudah. Saat ini Ivas Card tersedia di berbagai outlet di seluruh Indonesia dan dapat pula dibeli secara online melalui SMS. IVAS sangat cocok bagi para pengguna internet yang membutuhkan akses internet prepaid dan sering melakukan pembelian konten-konten internet, seperti pembelian voucher Game On Line, Push Email, e-Learning, dan lain sebagainya.

    Layanan kartu ini cocok untuk memfasilitasi transaksi kecil seperti pembelian Ringtone, langganan artikel elektronik, bermain game online dan berbagai layanan konten internet lainnya.

    i-VAS tersedia dalam bentuk kartu prabayar (i-VAS fisik) yang dapat dibeli di outlet-outlet dan Plasa Telkom yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu untuk kemudahan pelanggan, i-VAS juga dapat dibeli secara online melalui SMS ke nomor 4827 dari nomor Telkomsel dan Flexi.

    Untuk pembelian di outlet-outlet, kartu i-VAS perdana tersedia dengan nominal Rp. 25,000, Rp. 50,000 dan Rp. 100,000. Selain itu tersedia voucher isi ulang i-VAS dengan nominal Rp. 100,000 dan Rp. 200,000.

    Untuk pembelian melalui SMS 4827, i-VAS tersedia dengan nominal Rp. 15,000 dan Rp. 25,000. Selain itu tersedia voucher isi ulang i-VAS dengan nominal Rp. 25,000.

    Lima Poin Pendidikan Anak Dalam Islam

    Oleh Siti Aisyah Nurmi

    Sumber : www.eramuslim.com

    Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

    Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

    Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:

    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

    Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

    Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

    Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

    Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
    Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

    Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

    Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:

    1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.

    2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.

    3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

    Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

    Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

    Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

    Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

    Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.

    Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

    Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:

    Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

    Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

    Waspadai Phishing!

    Waspadai phishing. Hal inilah yang sering menjadi topik kampanye edukasi publik, terutama oleh bank-bank dalam melindungi nasabahnya dari ancaman pencurian data pribadi lewat Internet. Hal ini beralasan, mengingat fasilitas online yang ditawarkan melalui Internet telah memberikan kemudahan bagi sejumlah pihak. Kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman virtual harus semakin ditingkatkan.

    Phishing yang berasal dari kata fishing bisa diartikan sebagai memancing. Para pelaku (phishers) biasanya berusaha memancing orang lain untuk memperoleh data-data pribadi korban. Aktivitas phishing ini biasanya dilakukan melalui e-mail dan situs-situs tertentu.

    Berdasarkan survei Gartner, serangan phishing meningkat pesat pada 2007. Kerugian akibat aktivitas ini ditaksir mencapai USD 3,2 miliar. Survei tersebut menunjukkan, 3,6 juta orang kehilangan uang mereka dalam jangka waktu 1 tahun hingga Agustus 2007. Padahal, jumlah orang yang menderita kerugian akibat phishing di tahun sebelumnya hanya 2,3 juta.

    Selain itu, berdasarkan survei Gartner terhadap 4.500 orang pengguna Internet di Amerika, serangan phishing dianggap paling berhasil pada tahun 2007. Padahal, pada dua tahun sebelumnya, serangan ini dianggap tidak terlalu membahayakan.

    Gartner juga mengemukakan, 3,3 persen dari penerima email phishing pada 2007 menyatakan, mereka kehilangan uang karena penipuan lewat phishing ini. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2,3 persen orang yang tertipu pada tahun 2006 dan 2,9 persen pada tahun 2005.

    Menurut Vice President, Country Marketing Head Citibank, Rico Frans, keamanan bagi konsumen adalah hal yang sangat penting, khususnya bagi pengguna online banking yang saat ini makin meningkat jumlahnya. Ia menambahkan, bentuk penipuan yang dilakukan bisa berupa email atau situs fiktif yang menggunakan logo atau nama institusi tertentu dan dibuat menyerupai situs yang asli.

    E-mail atau situs-situs ini kemudian mengarahkan target untuk memasukkan data-data pribadi seperti nomor kartu kredit, nomor rekening, password, dan informasi penting lainnya.

    Bila ditelaah lebih jauh, mengirimkan phish email memang bukan tindakan ilegal. Tindakan ini baru menjadi ilegal bila data yang diperoleh kemudian disalahgunakan.

    Selain itu, bertambahnya jumlah korban phishing juga disebabkan oleh makin pandainya phisher memanfaatkan Internet. Di lain pihak, upaya untuk mendidik masyarakat mengenai bahaya phishing masih belum sebanding dengan metode pencurian data tersebut.

    Untuk menghindari diri dari phishing, Rudy Hamdani, Vice President e-business head Citibank menyatakan, terdapat beberapa tips yang bisa dilakukan untuk melindungi data dan informasi nasabah agar aman:

    1. Waspada jika menerima e-mail yang meminta informasi tentang nomor rekening atau nomor kartu atau nomor PIN.

    2. Sebaiknya tidak melakukan transaksi perbankan di tempat yang menyediakan layanan Internet untuk publik (seperti warnet atau PC kantor).

    3. Jika mendapat e-mail untuk mengunjungi situs bank tertentu dan meminta informasi tentang rekening nasabah, pastikan situs itu adalah situs resmi.

    Dengan demikian, waspadalah selalu terhadap kejahatan yang dilakukan lewat dunia maya.

    Sumber : sda-indo.com
    (telkom.net)

    Anakku, Allah Mendengarkannya Dari Langit Ketujuh…

    Wanita itu menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

    Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. ”

    Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

    Beliau adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.

    Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

    Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

    Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.

    Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw. Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)

    Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

    Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekan seorang budak

    Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.

    Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut

    Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.

    Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin

    Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.

    Nabi : Aku bantu dengan separuhnya

    Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah. Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.”

    Maka Khaulah pun melaksanakannya. Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

    Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1)

    Sumber: Nisa’ Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

    www.alislamu.com

    ***

    Kupersembahkan untuk putriku, Farah Khaulah Salsabila. Nama Khaulah yang kami selipkan pada rangkaian namamu, adalah harapan dan doa kami semoga engkau meneladani Khaulah binti Tsa’labah dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Harapan kami juga agar engkau senantiasa menjadikan tuntunan Allah sebagai pedoman dan Rasulullah sebagai teladan.

    Farah, begitu kami memanggilmu sehari-hari, adalah harapan dan doa kami agar engkau tumbuh menjadi pribadi yang gembira, dan senantiasa dapat memberi kegembiraan bagi orang lain. Salsabila di ujung namamu, adalah harapan kami agar engkau menjadi pribadi yang tenang dan menyejukkan, sebagaimana telaga Salsabil. Begitu besar dan banyak harapan kami untukmu nak, yang kami lukiskan dalam rangkaian namamu.

    7 Agustus 2004, adalah hari ketika Allah mengamanahiku seorang putri, hari dimana statusku telah berubah menjadi seorang ibu dari seorang anak. Subhanallah, begitu banyak kebesaran dan kekuasaan Allah yang dapat kulihat dalam proses kehadiranmu ke dunia ini anakku. Mulai dari pertumbuhanmu dari bulan ke bulan didalam kandungan hingga kelahiranmu. Subhanallah. Allahu Akbar.

    Kini seiring dengan bergulirnya waktu, engkau telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang lincah, aktif dan kritis. Kini engkau telah lincah bergerak dan berbicara, bahkan telah dapat mengkritik ibumu yang jarang dirumah. Masih banyak kekurangan kami sebagai orangtuamu nak, karena itu maafkanlah kami. Kami akan senantiasa belajar dan belajar agar dapat menjadi orangtua yang shalih dan shalihah sehingga dapat mendidikmu menjadi anak yang shalihah pula, dengan izin Allah tentunya.

    Terkadang di sela-sela kesibukanku, aku tidak pernah terpikir bahwa engkau merindukanku ada didekatmu, sekedar menemanimu bermain, atau mendengarkan ceritamu. Mungkin karena keterbatasanku, aku sering tidak peka terhadap apa yang kau harapkan. Sering engkau mencari-cari perhatian dengan tingkah yang menurutku menjengkelkan, tetapi aku masih belum dapat membaca “maksudmu”. Maafkan ibumu anakku, semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kami, orangtuamu, untuk dapat mendidikmu dengan baik sesuai dengan tuntunanNya.

    Memperingati hari lahir Farah yang ke-4, 7 Agustus 2008, ”Semoga menjadi anak yang shalihah ya, nak….” Amin.